Voices of 17,000: Language Extinction in Indonesia
by Almira Tsabitah Dian Prasetya (Indonesia)
Can you guess how many languages there are in Indonesia? The country has over 17,000 islands, and this is based on national data from itself. Some say 16,056 islands, but according to the Ministry for Maritime and Investments Affairs Indonesia has 17,504 islands. So which is which? Nevertheless, Indonesia has a high amount of islands that are populated and around 6,000 of them are inhabited. I would assume Indonesia has a rich culture; if you're on the same page as me, you're spot on correct!
What defines a rich culture? Rich in Culture or we can say it as Diverse Culture, it can refer to various languages too. Cited from UNESCO itself, Culture diversity refers to the variety of cultural expressions and practices that exist within a society or among different societies. This diversity encompasses differences in language, customs, beliefs, and values, contributing to a rich tapestry of human experience. From this we find how languages sculpt our identity, social structures, or even phrases that might not even have the same word and meaning in other languages; it makes it unique. But how would you feel when you can lose your cultural identity? As simple or small it might seem, it is something society should fear about. This is Language Extinction.
I once chatted with a friend of mine who is from East Nusa Tenggara. It is a province in Indonesia located on the east side of the country. I asked him about the language there. Do the schools at his place teach about the local language? He answered with: "The grandparents here don't teach the local languages anymore, most of them." I was shocked. As I am writing this, I found out that his area of residency is in the status of potentially endangered with data describing the declining of the language users in the area such as Dawan (Uab Metro) and Helong. It is not severely endangered, but other parts of the region inside the province have devastatingly got the status endangered from officials.
11 out of 86 indigenous languages in East Nusa Tenggara Province are critically endangered. Based on the national news, Kompas.com, Head of the NTT Province Education and Culture Office, Linus Lusi said, "The 11 regional languages that are nearly extinct have few speakers. In fact, there is one language that only has one speaker left. And even then, the speaker is quite old." This is a news from 2022; can you imagine how the situation of these 11 languages is today? I want to take 3 examples of languages with status of endangered and how these 3 languages can get into their recent position.
1. Abui
Abui or to be called Aboa is a famous language in Dede Kadu Village located in West Sumba, East Nusa Tenggara. Aside from Abui Language, its locals are Kolon language native speakers. These native speakers commonly reside in the east and south area of the village. Whereas, the west and north area of the village commonly speaks Abui.
2. Klon
Apart from Abui, Klon is one of the languages in the list Endangered. The local Klon speakers are at Probur Village, Alor Island, East Nusa Tenggara. Based on what the natives conferred, Klon language in Probur Village is located near the borderline south and east of Dede Kadu Village.
3. Wersing
Wersing language is the native language at North Kolana Village. Wersing is also being used in Maritaing Village, Maisamang, Elok, and South Kolana. Sawila language is another local language that is being used in the same region as Wersing.
After getting to know these 3 examples, I wonder how these languages are progressing to extinction. Cited from Editor's Summary in Science, more than four languages are lost every year, and this rate is predicted to increase. Based on the RFI International Article, Unesco considers a language to be "endangered" when it is "no longer taught to children as a mother tongue at home" and the youngest speakers are their parents. It is "seriously endangered" when it is only spoken by grandparents, and parents understand it "but no longer use it with their children or among themselves." The last stage before extinction – what Unesco calls the "critical situation" stage – is when "the last speakers are from the great-grandparents' generation" and the language is "not used in everyday life".
From here, we understand the simple identification status for a language. This would mean languages such as Abui, Klon, and Wersing are no longer being taught to their offspring. On the other part of the globe, some languages are severely dying because the last generation of speakers are at the end of their last stages of life. I know on the outside it might sound or look pretty simple, but it really isn't. Aside from languages not being passed down to their new generations, languages can go extinct because of European colonisation. Cited from RFI International, European colonisation is one of the major factors that explains the trend, having "led to the deaths of millions of indigenous people, disrupting the transmission of languages from one generation to the next," says linguist Evangelia Adamou, senior researcher at the French National Centre for Scientific Research (CNRS). Don't you see how this could be the result of a massacre, genocide, epidemic event, and etc; any human would know in their right mind that this is a highly serious problem.
It might seem to be simple, small, unserious, and so many things, but how can we belittle such horrific phenomena? It is depressing to see communities collapse and we don't take action whilst we lose our humanity. Whether you're a student, teacher, lawyer, engineer, archaeologist, or so much more even though you're not an expert at literature. Nevertheless, we are human and we should treat others as such.
Suara asal 17,000 Pulau: Kepunahan Bahasa di Indonesia Kontemporer (Indonesian)
Bisakah Anda menebak ada berapa banyak bahasa di Indonesia? Negara ini memiliki lebih dari 17.000 pulau, dan hal ini didasarkan pada data nasionalnya sendiri. Beberapa orang mengatakan 16.056 pulau, tetapi menurut Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Indonesia memiliki 17.504 pulau. Lantas, mana yang benar? Terlepas dari itu, Indonesia memiliki jumlah pulau berpenduduk yang sangat banyak dan sekitar 6.000 di antaranya berpenghuni.
Saya akan berasumsi bahwa Indonesia memiliki budaya yang kaya, dan jika Anda sepemikiran dengan saya; Anda sangat tepat! Apa yang mendefinisikan budaya yang kaya? Kaya akan Budaya atau bisa kita sebut sebagai Budaya yang Beragam, hal ini juga dapat merujuk pada berbagai macam bahasa. Dikutip dari UNESCO, keanekaragaman budaya merujuk pada berbagai ekspresi dan praktik budaya yang ada di dalam suatu masyarakat atau di antara masyarakat yang berbeda. Keanekaragaman ini mencakup perbedaan dalam bahasa, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai, yang berkontribusi pada permadani pengalaman manusia yang kaya. Dari sini kita menemukan bagaimana bahasa membentuk identitas kita, struktur sosial, atau bahkan frasa yang mungkin tidak memiliki kata dan makna yang sama dalam bahasa lain; itu membuatnya unik. Namun, bagaimana perasaan Anda ketika Anda bisa kehilangan identitas budaya Anda? Meskipun tampak sederhana atau kecil, ini adalah sesuatu yang harus ditakuti oleh masyarakat. Ini adalah Kepunahan Bahasa.
Saya pernah mengobrol dengan seorang teman yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Itu adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian timur negara ini. Saya bertanya kepadanya tentang bahasa di sana. Apakah sekolah-sekolah di tempatnya mengajarkan bahasa daerah? Dia menjawab: "Kakek nenek di sini sudah tidak mengajarkan bahasa daerah lagi, sebagian besar dari mereka." Saya terkejut. Saat saya menulis ini, saya menemukan fakta bahwa daerah tempat tinggalnya berstatus berpotensi terancam punah dengan data yang menggambarkan menurunnya pengguna bahasa di daerah tersebut seperti bahasa Dawan (Uab Meto) dan Helong. Statusnya memang belum sangat terancam punah, namun daerah lain di wilayah provinsi tersebut secara tragis telah mendapat status terancam punah dari para pejabat berwenang. 11 dari 86 bahasa asli di Provinsi Nusa Tenggara Timur berada dalam kondisi kritis terancam punah. Berdasarkan berita nasional, Kompas.com, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi mengatakan, "11 bahasa daerah yang hampir punah itu penuturnya tinggal sedikit. Bahkan, ada satu bahasa yang penuturnya tinggal satu orang. Itu pun penuturnya sudah cukup tua." Ini adalah berita dari tahun 2022, bisakah Anda bayangkan bagaimana situasi ke-11 bahasa ini sekarang?
Saya ingin mengambil 3 contoh bahasa dengan status terancam punah dan bagaimana ketiga bahasa ini bisa berada pada kondisinya saat ini.
1. Abui
Abui atau yang juga disebut Aboa adalah bahasa yang terkenal di Desa Dede Kadu yang terletak di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Selain Bahasa Abui, penduduk setempat juga merupakan penutur asli bahasa Kolon. Para penutur asli ini umumnya tinggal di wilayah timur dan selatan desa. Sedangkan, wilayah barat dan utara desa umumnya menuturkan bahasa Abui.
2. Klon
Selain Abui, Klon adalah salah satu bahasa yang masuk dalam daftar Terancam Punah. Penutur lokal bahasa Klon berada di Desa Probur, Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan apa yang disampaikan oleh penduduk asli, bahasa Klon di Desa Probur berlokasi di dekat perbatasan selatan dan timur Desa Dede Kadu.
3. Wersing
Bahasa Wersing adalah bahasa asli di Desa Kolana Utara. Wersing juga digunakan di Desa Maritaing, Maisamang, Elok, dan Kolana Selatan. Bahasa Sawila adalah bahasa daerah lain yang digunakan di wilayah yang sama dengan Wersing.
Setelah mengetahui 3 contoh ini, saya bertanya-tanya bagaimana bahasa-bahasa ini berproses menuju kepunahan. Dikutip dari Ringkasan Editor di jurnal Science, Lebih dari empat bahasa hilang setiap tahunnya, dan tingkat ini diperkirakan akan meningkat. Berdasarkan Artikel RFI International, UNESCO menganggap sebuah bahasa "terancam punah" ketika bahasa tersebut "tidak lagi diajarkan kepada anak-anak sebagai bahasa ibu di rumah" dan penutur termudanya adalah generasi orang tua mereka. Sebuah bahasa "sangat terancam punah" ketika hanya dituturkan oleh kakek-nenek, dan dipahami oleh generasi orang tua mereka "tetapi tidak lagi menggunakannya dengan anak-anak mereka atau di antara mereka sendiri". Tahap terakhir sebelum kepunahan yang oleh UNESCO disebut sebagai tahap "situasi kritis" adalah ketika "penutur terakhir berasal dari generasi buyut" dan bahasa tersebut "tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari".
Dari sini, kita memahami status identifikasi sederhana untuk sebuah bahasa. Ini berarti bahasa seperti Abui, Klon, dan Wersing tidak lagi diajarkan kepada keturunan mereka. Di belahan dunia lain, beberapa bahasa sedang menghadapi kematian yang parah karena generasi penutur terakhirnya berada di tahap akhir kehidupan mereka. Saya tahu dari luar mungkin terdengar atau terlihat cukup sederhana, tetapi kenyataannya tidak demikian. Selain bahasa yang tidak diwariskan ke generasi baru, bahasa-bahasa juga dapat punah karena kolonialisasi Eropa. Dikutip dari RFI International, kolonialisasi Eropa adalah salah satu faktor utama yang menjelaskan tren tersebut, yang telah "menyebabkan kematian jutaan penduduk asli, sehingga mengganggu transmisi bahasa dari satu generasi ke generasi berikutnya," kata ahli bahasa Evangelia Adamou, peneliti senior di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS). Tidakkah Anda melihat bagaimana hal ini bisa menjadi akibat dari pembantaian, genosida, kejadian epidemi, dan lain-lain; manusia manapun yang berpikiran waras akan tahu bahwa ini adalah masalah yang sangat serius.
Ini mungkin tampak sederhana, kecil, tidak serius, dan banyak hal lainnya, tetapi bagaimana kita bisa meremehkan fenomena yang begitu mengerikan? Sangat menyedihkan melihat komunitas-komunitas runtuh dan kita tidak mengambil tindakan sementara kita kehilangan rasa kemanusiaan kita. Baik Anda seorang siswa, guru, pengacara, insinyur, arkeolog, atau apa pun itu, meskipun Anda bukan seorang ahli sastra. Walau bagaimanapun, kita adalah manusia dan kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana mestinya.
Resources:
1. How many islands are there in Indonesia?
2. What is Culture diversity? Meaning, Definition.
3. News: Ini Alasan Dipilihnya Lima Bahasa Daerah di NTT untuk Direvitalisasi Tahun2022
4. 11 Bahasa Daerah di NTT Disebut Terancam Punah
5. Bahasa Daerah NTT ini Terancam Punah karena Sudah Jarang Dipakai - Blog InsanBumi Mandiri
6. The rise and fall of language diversity through the Holocene | Science
7. The last word: why half of the world's languages could vanish this century - RFI